Menyingkap Jet Tempur F-16 Fighting Falcon: Ada Faktor Tak Sengaja dari Kelahiran Si Gesit Amerika Ini

foto

TEMPO.CO, Jakarta -Hampir tak ada yang tak tahu sosok jet tempur F-16 Fighting Falcon, burung besi legendaris bikinan Amerika Serikat, .

Pada 49 tahun silam, tepatnya 2 Februari 1974, F-16 Fighting Falcon terbang untuk pertama kalinya secara resmi. Jet tempur ini telah digunakan oleh 28 negara dan per Juni 2018 telah mencapai angka produksi 4.604.

Baca : Ukraina Minta Pasokan Jet Tempur f-16 dari AS, Serangan Rusia Menggila

Mengutip buku The World’s Air Forces, sejarah F-16 bermula dari usulan konsep pesawat tempur ringan berteknologi mumpuni namun efektif dalam bermanuver oleh Kolonel John Boyd bersama dengan sekelompok insinyur dan analis pertahanan dari Angakatan Udara dan Departemen Pertahanan AS merespons kebutuhan militer saat itu pada awal 1970-an.

Usulan mereka lalu disusun lebih lanjut melalui program bernama Lightweight fighter (LWF). Dimulai pada Mei 1971, program ini didukung dari Kongres Amerika Serikat dengan sokongan dana senilai 50 juta Dolar AS. Program LWF kemudian berganti nama menjadi Air Combat Fighter (ACF) karena empat negara NATO yakni Belgia, Belanda, dan Denmark ingin memesannya.

General Dynamics kemudian dipilih oleh Angkatan Udara AS untuk menggarap pengembangan dan pengujian prototipe F-16. Akhirnya pada 13 Desember 1973, prototipe F-16 yang ketika itu dinamai YF-16 untuk pertama kali roll-out dari hangar dan mulai terbang di awal tahun 1974.

Tak Sengaja Terbang

F-16 yang masih dalam bentuk prototipe secara tidak sengaja terbang untuk pertama kalinya pada 20 Januari 1974. Hal itu terjadi ketika dilakukan pengujian kecepatan tinggi di darat. Pilot terpaksa menerbangkan pesawat guna menghindari marabahaya akibat adanya potensi hilang kendali. Penerbangan resmi F-16 dilakukan pada 2 Februari 1974.

Mengutip buku Beyond the Horizons: The Lockheed, sebagai salah satu jet tempur terlaris, F-16 memiliki sederet keunggulan. F-16 tergolong jet tempur yang sangat gesit berkat bentuk dan bobotnya yang ringan untuk ukuran jet tempur. Untuk propulsi, F-16 ditunjang satu mesin tubofan General Electric F110-GE-129. Versi lainnya menggunakan Pratt & Whitney F100-PW-229. Ini membuat F-16 dapat melesat hingga 2.121 km/jam alias 2 kali kecepatan suara.

F-16 dapat membawa berbagai jenis persenjaan seperti rudal air-to-air seperti AIM-9 Sidewinder dan AIM-9 Sidewinder, rudal udara-ke-darat seperti AGM-65 Maverick dan AGM-88 HARM, rudal anti-kapal, roket, beberapa jenis bom pintar, serta perangkat electronic countermeasures. Selain itu, F-16 juga dilengkapi dengan meriam putar 20 mm M61A1 Vulcan untuk pertempuran jarak dekat.

Usai melewati serangkaian pengujian dan penerbangan, pada Januari 1975, F-16 diumumkan akan dipesan Angkatan Udara AS sebanyak 650 unit. Ditambah dengan beberapa negara NATO yang juga ikut memesan, total unit yang dibeli mencapai sekitar 1600 unit. Pada 21 Juli 1980 Angkatan Udara AS juga secara resmi menamai F-16 dengan “Fighting Falcon”.

Tahap produksi dari jet tempur F-16 mulai dilakukan General Dynamics pada akhir 1975, dan dilanjutkan produksinya oleh Lockheed Martin dari tahun 1993 hingga sekarang. F-16 menjadi jet tempur buatan AS dengan jumlah produksi terbanyak kedua setelah F-4 Phantom II.

HATTA MUARABAGJA

Baca juga : Taiwan Hentikan Penerbangan Seluruh Armada F-16 Setelah Satu Pesawat Jatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *